The Billion Rupiah Homepage

Sunday, 22 September 2013

My Room is My Palace!

Posted by Unknown On 05:54

My Room is My Palace!

 A small blue room, with turquoise walls and dark blue curtains, is a place that I love the most. That is my room, which is my heaven. The place where I can relax, doing anything in ease. It feels like my room is the safest place in this world. Yap, the room feels like filled with peacefulness. Besides, I can go there anytime I want. Many posters patched on the wall. One of them is a map. I like to sit and stare at the world map. I look for certain countries and think about which country that I want to visit. It gives me a sense that I able to. Moreover, when I am in my room, I can do everything. For relaxing, studying, chatting, reading, writing, or even just lying down on my bed. Everything will be finished there. My room is very important too because it holds all of my personal belongings, which are very precious to me. The way my room is set up is kind of cluttered, but that is the way I like and I don’t care how people judge me. I realize why some people are touchy about who’s in their home. It is because those things are important to me and may have meaning. Maybe most people would not have the same argument about mine. They thought that a favorite place should be like mall, beach, garden, and so on. It’s totally different with me right? Yap, this is because everyone has their own fundamental perspectives. I have my own reason why my room is the place I love the most. 

Friday, 20 September 2013

Pancasila dibandingkan dengan Ideologi lainnya

Posted by Unknown On 00:45

Apa itu ideologi ? Mungkin 8 dari sepuluh orang telah mengetahuinya, sekedar tahu ideologi secara kasar. Apakah itu cukup? Jelas saja tidak! Mungkin dibenak mereka hanya terlintas bahwa ideologi itu sebuah gagasan. Memang benar ideologi itu merupakan sebuah gagasan. Namun gagasan yang seperti apa? Ya tentu saja gagasan yang sangat berarti. Sebenarya ideologi itu sendiri merupakan konsep yang berisi niali-nilai dasar dan memberikan arah tujuan hidup bahkan pedoman hidup. Berbicara tentang ideologi berbicara pula tentang negara. Mengapa demikian? Karena sangat besar kaitannya antara negara dan ideologi, sama seperti rumah dan pondasinya. Kita ibaratkan rumah sebagai negara dan pondasi sebagai ideologinya. Bisa kita bayangkan jika rumah tanpa pondasi. Tidak akan kuat bukan? Pondasi itu sangat dibutuhkan untuk menyokong rumah tersebut berdiri kokoh. Seperti negara dengan ideologinya. Nah, jadi ideologi negara adalah pedoman hidup dalam penyelenggaraan negara. Tanpa ideologi negara akan mati tak berdaya. Ideologi disetiap negara diterapkan berdasarkan kondisi dan keadaan. Tidak sembarang dalam memilihnya pun karena jika salah negara itu akan bobrok. Dengan kata lain bahwa idelogi itu tidak hanya satu melainkan bermacam-macam; ideologi liberal; ideologi komunis; ideologi sosialis; ideologi fasisme; ideologi pancasila. Dari berbagai macam ideologi yang ada pasti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan bagi penganutnya. Jadi, Ideologi menjadi suatu yang sangat penting bagi suatu negara dan tentu bagi kelangsungan hidup suatu kelompok atau sebuah bangsa. Hal itu disebabkan Ideologi memberikan kejelasan identitas nasional, member inspirasi akan cita-cita dan pendorong dalam tujuan masyarakatnya. Dengan Ideologi yang jelas, suatu negara akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana mengenal dan memecahkan masalah. Dan tentu saja ideologi yang dipilih setiap negara berdasarkan kondisi negara tersebut. Namun mengapa tidak semua negara memiliki ideologi yang sama ? Amerika saja bisa maju dengan ideologi liberalismenya, mengapa Indonesia tidak?
                                                                                                *****
Indonesia merupakan negara berkembang dengan ideologi pancasilanya. Ya pancasila sebagai negara Indonesia mempunyai peran penting untuk kelangsungan hidup bangsa. Karena pancasila memiliki orientasi ke depan dimana bangsa Indonesia harus siap sedia dalam segala situasi. Terutama dalam menghadapi globalisasi dan era keterbukaan dunia dalam segala bidang. Dengan ideologi pancasila yang memiliki dimensi realistis, normatis dan idealistis Indonesia mampu menghadapi globalisasi.
Mari kita bandingkan ideologi pancasila dengan ideologi lainnya      
IDEOLOGI ASPEK
LIBERALISME
KOMUNISME
SOSIALISME
PANCASILA
POLITIK HUKUM
·      Hukum untuk melindungi individu
·      Politik mementingkan individu
·      Berkuasa mutlak satu parpol
·      Hukum untuk melanggengkan komunis
·      Diutamakan kebersamaan
·      Masyarakat sama dengan negara
·      Hukum untuk menjunjung tinggi keadilan dan keberadaban individu dan masyarakat

EKONOMI
·      Peran negara kecil swasta mendominasi
·      Kapitalisme, Monopolisme dan persaingan bebas
·      Peran negara dominan
·      Demi kolektivitas berarti demi negara
·      Monopoli negara
·      Peran negara ada untuk pemerataan
·      Keadilan distributif yang diutamakan
·      Peran negara ada untuk tidak terjadi monopoli
AGAMA
·      Agama urusan pribadi
·      Bebas beragama, bebas memilih agama atau tidak
·      Agama candu masyarakat dan harus dijauhkan
·      Agama mendorong perkembangannya kebersamaan

·      Bebas memilih satu negara
·      Agama harus menjiwai dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara
CIRI KHAS
·      Penghargaan atas HAM
·      Demokrasi
·      Negara hukum
·      Reaksi terhadap abslutisme
·      Atheism
·      Dogmatis
·      Otoriter
·      Ingkar HAM
·      Reaksi terhadap liberalism dan kapitalisme
·      Kebersamaan
·      Akomdasi
·      Jalan tengah
·      Keselarasan, keseimbangan, dan keserasian dalam setiap aspek kehidupan
Dapat disimpulkan bahwa pancasila adalah bagian dari idelogi bangsa yang diangkat dari nilai-nilai adat istiadat kebudayaan yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai ideologi bangsa menunjukkan adanya keseimbangan ide dan gagasan serta tidak bersifat absolute dalam memandang manusia dan kehidupan bernegara, sedangkan liberalism, komunisme lebih bersifat mutlak atau otoriter. Keduanya juga cenderung menutup mata akan adanya dampak individualism dan persaingan. Selain itu, jika dibandingkan dengan Pancasila, sosialisme sering dikatakan antitesa Kapitalisme, yang tingkah laku eknomi dikuasai oleh kepentingan untuk memperoleh keuntungan maksimal lewat persaingan bebas.

Jadi kita sebagai bangsa Indonesia harus membantu negara dalam menjalankan idelogi pancasila guna memajukan negara kita sendiri, negara Indonesia. Indonesia tidak mampu bersaing tanpa bangsanya dan bangsa tidak akan ada jika tidak ada negara. Semuanya berkesinambungan semuanya mempunyai peran penting. 

Wednesday, 3 April 2013

Contact

Posted by Unknown On 09:13

andrianifera@gmail.com

Cepret !

Posted by Unknown On 09:08











17 from Mas B

Posted by Unknown On 08:59


Ada kala seseorang harus beranjak
Dari ragam masa bahagia di kala fajar
Ada kala seseorang harus berkelana
Di penghujung masa manja dan kabut timang

Ini adalah pondok pertamamu
Di awal peran musafir mu
Anggaplah, Ini merupakan babak babak penuh kerikil
Yang engkau idamkan selama ini
Akan ada seribu jalan yang setidaknya engkau tatap
Dalam pencarian peran sejati
Di panggung sandiwara ini

Sedikit bekalku, untuk engkau
Agar terasa nantinya
Bagimu..
Dan jadilah dirimu, seperti apa yang tersirat dari kalbumu
Sekedar pengantar
Dariku
Agar senantiasa engkau
Dalam lindungan Nya
Dan kenanglah diriku, di akhir pengucapanku ini..
Selamat Ulang Tahun Feraa :D 

Tuesday, 12 March 2013

Angklung

Posted by Unknown On 03:33


Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.
Asal-usul



Anak-anak Jawa Barat bermain angklung di awal abad ke-20.
Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Seruling

Posted by Unknown On 03:20



Suling adalah alat musik dari keluarga alat musik tiup kayu atau terbuat dari bambu. Suara suling berciri lembut dan dapat dipadukan dengan alat musik lainnya dengan baik.

Suling modern untuk para ahli umumnya terbuat dari perak, emas atau campuran keduanya. Sedangkan suling untuk pelajar umumnya terbuat dari nikel-perak, atau logam yang dilapisi perak.

Suling konser standar ditalakan di C dan mempunyai jangkauan nada 3 oktaf dimulai dari middle C. Akan tetapi, pada beberapa suling untuk para ahli ada kunci tambahan untuk mencapai nada B di bawah middle C. Ini berarti suling merupakan salah satu alat musik orkes yang tinggi, hanya piccolo yang lebih tinggi lagi dari suling. Piccolo adalah suling kecil yang ditalakan satu oktaf lebih tinggi dari suling konser standar. Piccolo juga umumnya digunakan dalam orkes.

Suling konser modern memiliki banyak pilihan. Thumb key B-flat (diciptakan dan dirintis oleh Briccialdi) standar. B foot joint, akan tetapi, adalah pilihan ekstra untuk model menengah ke atas dan profesional.

Suling open-holed, juga biasa disebut French Flute (di mana beberapa kunci memiliki lubang di tengahnya sehingga pemain harus menutupnya dengan jarinya) umum pada pemain tingkat konser. Namun beberapa pemain suling (terutama para pelajar, dan bahkan beberapa para ahli) memilih closed-hole plateau key. Para pelajar umumnya menggunakan penutup sementara untuk menutup lubang tersebut sampai mereka berhasil menguasai penempatan jari yang sangat tepat.

Beberapa orang mempercayai bahwa kunci open-hole mampu menghasilkan suara yang lebih keras dan lebih jelas pada nada-nada rendah.

Suling konser pada sebelum Era Klasik (1750) memakai Suling Blok (seperti gambar atas), sedangkan pada sebelum Era Romantis (Era Klasik 1750-1820) pakai Suling Albert (kayu hitam berlubang dan dilengkapi klep), dan sejak Era Romantis (1820) memakai suling Boehm (kayu hitam atau metal dilengkapi klep semua yang disebut juga suling Boehm, sistem Carl Boehm), atau suling saja.

Khusus musik keroncong di Indonesia pada Era Stambul (1880-1920) memakai suling Albert, dan pada Era Keroncong Abadi (1920-1960) telah memakai suling Bohm.