Hallo guys !! kali ini saya diberi tugas untuk menganalisis peanggaran nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari. Nah sebelum lanjut ke contoh penerapannya, saya akan sedikit memberi pembuka.
Pancasila merupakan ideologi negara kita yang memiliki nilai-nilai dasar negara. Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara menjadikan setiap tingkah laku penyelenggara dan pelaksana pemerintahan berpedoman pada Pancasila. Berpedoman agar terwujudnya cita-cita bangsa dan negara guna terciptanya kesejahteraan, kemakmuran serta perdamaian bersama. Seperti yang telah kita semua ketahui, Pancasila terdiri atas 5 nilai-nilai penting dalam kesinambungan negara dan bangsa kita ini. 5 nilai-nilai Pancasila tersebut terdiri dari :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh himah kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
5 nilai-nilai Pancasila itu memang sudah sempurna, melihat dari kecocokkan antara ideologi dan karakter negara kita sendiri. Namun hanya saja dalam penerapannya masih belum bisa teraplikasikan secara tepat dan benar. Contoh saja dengan kasus “Ruhut Ancam Bongkar Bobrok Komisi III yang Menolaknya”
(http://www.merdeka.com/politik/ruhut-ancam-bongkar-bobrok-anggota-komisi-iii-yang-menolknya.html)
Dari contoh kasus diatas kita bisa telaah poin per poin, sudahkah nilai-nilai Pancasila teraplikasikan dengan tepat dan benar? Jawabannya adalah Tidak!! Mengapa demikian? Karena apa yang telah dilakukan oleh Ruhut itu totally wrong! Apa yang telah diperbuat oleh Ruhut telah melanggar 2 dari 5 nilai-nilai Pancasila, diantaranya:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Mengapa? Karena di semua agama yang ada di negara kita ini tidak diajarkan untuk memaksakan kehendak orang lain apalagi sampai mengancamnya. Jika itu terjadi maka akan fatal akibatnya dengan hasil akhir tidak akan puas bahkan bisa menyebabkan perselisihan karena adanya paksaan tadi.
2. Kerakyatan yang dipimpin oleh himah kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan
Mengapa? Karena semua hasil diskusi/rapat harus berdasarkan kata mufakat seluruh anggota diskusi/rapat bukan hanya sekedar “kata mufakat” belian. Di jaman sekarang ini banyak orang yang membeli “kata mufakat” terkesannya bahwa uang bisa membeli segalanya bahkan voting pun bisa dan mengabaikan permusyawaratan bersama.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa pengaplikasian niali-nilai pancasila di negara kita masih kurang dengan adanya banyak fakta yang menunjukkan banyaknya masalah yang melanggar nilai-nilai Pancasila. Diatas merupakan salah contoh satu masalah yang timbul karena menghiraukan nilai-nilai Pancasila. Pantas saja di negara kita masih banyak permasalahan yang timbul dari mulai tawuran antar pelajar, pelecehan seksual, pembunuhan, politik yang gagal dan masih banyak lainnya. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda generasi penerus bangsa harus mampu mengatasinya dengan mencoba mengaplikasikan nya di kehidupan sehari-hari di lingkup kecil terlebih dahulu guna terciptanya perdamaian abadi dan kesejateraan bersama. Jika kita tidak memulai perubahan, kapan negeri ini bisa MAJU?!
Thursday, 3 October 2013
menganalisis pelanggaran nilai-nilai pancasila
-
andrianifera@gmail.com
-
Hallo guys ! Fera Indriani is my full name, but my friends usually call me Fera :) Actually this is my new blog, I just make it now !...
-
Informasi Umum SNMPTN 2013 KATA PENGANTAR Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Peraturan Pemerintah ...
-
Pretend to be happy okay or not? - Sebenernya pretend to be happy ini bisa baik bisa engga tergantung situasi dan kondisi. Tapi katanya p...
-
GAMBAR YANG BISA MENIPU PENGELIHATAN 1. Apakah ini adalah gambar kapal laut atau pilar?
-
Gamelan Degung Ada beberapa gamelan yang pernah ada dan terus berkembang di Jawa Barat, antara lain Gamelan Salendro, Pelog dan Degung. ...
-
APA YANG ADA DIPIKIRANMU TIDAK SELALU NYATA - TAPI APA YANG ADA DI HADAPANMU SUDAH PASTI NYATA!
-
Apa itu ideologi ? Mungkin 8 dari sepuluh orang telah mengetahuinya, sekedar tahu ideologi secara kasar. Apakah itu cukup? Jelas saja tida...




1 comments:
Post a Comment